Pentingnya biosekuriti pada peternakan babi

Seberapa pentingnya biosekuriti pada peternakan babi? Mengingat mulai dari akhir tahun 2019 sampai awal tahun ini, momok virus African Swine Fever (ASF) menjadi pukulan keras untuk peternak babi di tanah air. Sebuah peternakan babi sudah seharusnya menerapkan sistem biosekuriti sebagai langkah awal pencegahan terhadap resiko penyakit. Untuk lebih jelasnya, simak penjelasannya berikut ini.

Biosekuriti merupakan sebuah konsep untuk mengurangi resiko masuknya penyakit menular dan tidak menular. Hal ini dilakukan dengan tujuan untuk meningkatkan produktivitas ternak, mencegah penularan penyakit dan efisiensi secara ekonomi terhadap mitigasi resiko sebuah usah peternakan.

Walaupun begitu, praktik manajemen biosekuriti kerap sulit dilaksanakan karena dipengaruhi oleh system menajemen perkandangan peternak babi, kondisi geografis dan social ekonomi peternak. Padahal biosekuriti merupakan cara murah dan efektif sebagai langkah awal pencegahan penyakit pada ternak babi.

Sebagaimana diketahui bahwa sebagian besar peternak babi di Indonesia terdiri atas peternak babi tradisional menjadikan beternak babi sebagai hobi ataupun sebagai tabungan keluarga. Namun disisi yang lain, tidak diterapkannya biosekuriti akan berimbas terhadap kondisi  ternak babi seperti munculnya agen penyakit hingga yang paling fatal kematian mendadak oleh serangan virus seperti adanya virus ASF dan Hog Cholera.

Penerapan biosekuriti untuk peternak babi skala besar sudah mampu menerapkan system biosekuriti sederhana namun untuk peternak tradisional masih berpikir untuk melaksanakan system biosekuriti. Anggapan menerapakan system biosekuriti yang mahal perlu diubah bahkan pada tingkat peternak babi tradisional, artikel sebelumnya diharapkan mampu menjawab hal ini dimana penyemprotan desinfektan dan antiseptik pada kandang babi hanya membutuhkan anggaran sekitar Rp 30 – 50  ribu rupiah perbulan.

Penelitian oleh Bulu et al., (2016) pada peternakan babi skala besar dengan populasi diatas 50 ekor di Kota Kupang menggambarkan bahwa pergantian breeder, kandang memiliki batas yang jelas dan pengunjung dikontrol memiliki persentase 100%. Namun, pada sisi yang lain masih jelek seperti mayat babi dibuang ke tempat sampah, tidak tersedianya tempat cuci atau desinfeksi untuk ban mobil yang masuk di pintu masuk peternakan, pencatatan penyakit ternak, tidak ada pakaian khusus untuk anak kandang dan kotoran ternak yang belum dikelola dengan baik.

Titik kritis lainnya yang perlu diperhatikan oleh peternak babi baik skala besar maupun skala tradisional ialah kondisi kandang babi  yang tidak lembab, terdapat pencahayaan dan sirkulasi udara yang baik, bahan pakan yang baik walaupun melakukan formulasi atau bahan pakan lokal, air yang bersih, serta menghindari hewan liar dan lalu lintas orang ke kandang peternakan babi anda.

Lalu lintas transportasi, penyemprotan alat kandang, serta calon babi yang akan dipelihara sebelum masuk ke kandang perlu diperhatikan untuk mencegah terjadinya penularan penyakit. Memang pada saat awal menerapkan system ini akan terasa berat khususnya untuk peternak babi tradisional, namun percayalah dengan melaksanakan biosekuriti maka akan meminimalkan resiko penyakit pada peternakan babi anda sehingga bisa lebih focus mengejar pertambahan bobot badan babi di kandang anda.

Itulah ulasan singkat babinesia tentang pentingnya biosekuriti pada sebuah peternakan babi. Selamat membaca dan semoga bermanfaat yah sahabat babinesia.

DAFTAR PUSTAKA

Bulu PM, Yanse Y. Rumlaklak, Erda ERH, Jacob JM. 2016. Level Penerapan Biosekurity Pada Peternakan Babi Skala Besar di Desa Noelbaki, Kecamatan Kupang Tengah Kabupaten Kupang. Partner, No 1. Hal. 11 – 19.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *