Kenapa babi tidak mau makan? 

Mau tau kenapa babi tidak mau makan? Simak dengan baik penjelasannya berikut ini yah sahabat, sehingga dengan mengetahui penyebabnya kamu bisa memberikan treatment dengan baik biar babinya bisa kembali makan dengan lahap dan rakus biar cepat besar.

Babi tidak mau makan merupakan masalah klasik yang hampir pernah dialami oleh seluruh peternak babi. Hal ini menjadi kendala dan tantangan dalam beternak babi, pasalnya babi yang tidak memiliki nafsu makan berdampak terhadap pertambahan bobot badan hingga ada yang berakhir dengan kematian.

Masalah babi tidak mau makan langsung didiagnosa dengan penyakit tertentu kemudian dengan mbah google melakukan permainan suntik antibiotika dari toko pakan ternak atau poultry shop terdekat. Apakah benar demikian? Yang paling parahnya, kadang hanya untuk mengejar setoran maka para technical service obat langsung menawarkan produk mereka tanpa mau pusing memikirkan mengapa babinya tidak mau makan.

Nah, penjelasan berikut ini menggambarkan bahwa penyebab babi tidak mau makan ada banyak. Berikut ini uraiannya:

Perhatikan perubahan babi

Hal pertama yang mungkin kamu bisa lakukan ialah mengamati perubahan babi secara inspeksi, suara, perabaan, dan penciuman. Perubahan akan tampak lebih jelas bila ternak babi berada dalam kawanan, tapi hal ini cukup sulit karena peternak babi di Indonesia memelihara babi sekitar 2 – 4 ekor untuk tabungan.

Perhatikan tanda – tanda klinis pada babi seperti lesu, menggigil, berat badan turun, dan beberapa tanda klinis lainnya. Pemeriksaan babi dapat dilakukan 5 – 10 detik terhadap kandang babi dengan melakukan pengamatan sebagai berikut:

  • Suhu
  • Kelembaban
  • Ventilasi
  • Bau
  • Perilaku babi
  • Nafsu makan
  • Reaksi terhadap manusia
  • Tingkat ammonia terhadap pernapasan

Penampakan

Babi yang tidak bergabung dalam kawanan pada saat diberi makan dapat menjadi indikasi sakit namun hal ini tidak mudah untuk dideteksi. Kegagalan makan, atau penurunan nafsu makan dalam kandang babi yang tampak normal perlu dicurigai. Pemeriksaan awal seperti kekurangan air dapat menjadi alasan mengapa babi tidak bergabung dalam kawanan. Selain itu, konsumsi air yang berlebihan dapat menjadi ciri – ciri babi mengalami sembelit.

Babi terlihat lesu

Babi yang terlihat lesu dapat menjadi indikasi tengah mengalami penyakit. Hal ini terlihat dari perilaku babi yang enggan untuk berdiri atau bergerak ketika ia telah merasa nyaman melakukannya. Hal ini pula dapat dikelirukan bila babi mengalami kelemahan kaki atau ketimpangan.

Gemetaran

Babi yang menggigil atau gemetar dengan cara mengangkat rambut di seluruh tubuh menjadi tanda klinis sebuah penyakit. Penyakit yang berpotensi ialah meningitis streptokokus atau infeksi sendi pada babi. Babi yang berbaring tengkurap dan menggigil dengan rambut di ujungnya sementara babi lain dalam kawanan merasa nyaman berpotensi menderita diare atau lumpuh akibat septikemia umum (bakteri dalam aliran darah).

Berat badan menurun

Berat badan yang menurun pada babi dapat disebabkan oleh indikasi dehidrasi akibat diare atau pneumonia. Penilaian terhadap berat badan dapat dilakukan penimbangan dengan memperhatikan umur babi tetapi teknik yang paling simple yang bisa dilakukan dengan mengevaluasi skor tubuh babi dari angka 1 – 5.

Discharge (leleran/kotoran)

Kotoran dari mata maupun hidung dapat menjadi indikasi penyakit yang berbeda dalam mengevaluasi penyakit akibat infeksi saluran pernapasan atas. Keluarnya air liur dari mulut bisa mengindikasikan penyakit eksotis seperti penyakit vesikuler. Biasanya pada babi betina keluarnya cairan dari vulva dapat mengindikasikan vaginitis, sistitis, pielonefritis, atau endometritis.

Kotoran

Perubahan feses pada babi dapat mengindikasikan berbagai macam penyakit utamanya diare, Tanda mukosa atau darah menandakan disentri babi, infeksi salmonella tukak lambung, atau enteropati hemoragik proliferatif. Pada babi yang sembelit menunjukkan punggung yang bungkuk, feses kecil dan keras, kesulitan dan ketegangan saat buang air besar, tidak bergabung dalam kawanan dan peningkatan konsumsi air.

Muntah

Muntah dapat menjadi tanda penyakit lain seperti gastro-enteritis yang dapat menular, atau pada babi dapat mengindikasikan penyakit ulserasi lambung. Pada babi yang sedang menyusui, gastro-enteritis berhubungan dengan infeksi E. coli.

Kulit

Kulit dapat menjadi pertanda identifikasi penyakit, yang ditandai dengan lesi akut atau kronis yang disebabkan oleh kudis dan kutu. Erisipelas mungkin tidak terlihat, tetapi dengan mengusapkan telapak tangan di atas kulit akan menunjukkan tanda lesi pada area yang menonjol.

Laju respirasi

Amati gerak pernapasan, ritme dan frekuensi napas pada babi, bandingkan tingkat pernapasan dari hewan normal dan hewan yang dicurigai. Pernapasan perut yang sangat dangkal dapat menandakan radang selaput dada dan nyeri.

Kematian dalam kawanan

Terakhir, lakukan observasi kematian babi dalam kawanan yang didukung oleh pemeriksaan post-mortem. Waktu dan tempat kematian babi dapat membantu dalam mengidentifikasi dan memahami suatu masalah

Itulah ulasan singkat babinesia tentang kenapa  babi tidak mau makan. Selamat mencoba dan semoga berhasil yah sahabat babinesia.

DAFTAR PUSTAKA

Pigsite. 2021. Recognising disease on the farm. Diakses dari: https://www.thepigsite.com/disease-and-welfare/managing-disease/recognising-disease-on-the-farm

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Protein untuk Indonesia