Cara atasi diare (berak susu) pada babi

Mau tau cara atasi diare (berak susu) pada babi? Berikut ini babinesia uraikan penjelasannya untuk kamu yah sahabat babinesia. Simak penjelasannya berikut ini.

Diare merupakan penyakit langganan yang sering dialami oleh perternak babi di Indonesia, baik yang sudah punya pengalaman puluhan tahun beternak babi apalagi yang baru memulai beternak. Nah, jika masalah serupa juga terjadi dengan kandang ternak babi kamu saat ini berarti kamu datang pada artikel yang tepat.

Berikut ini akan kami uraikan sekilas tentang cara atasi diare (berak susu) pada babi utamanya untuk peternak babi di Indonesia.

Sekilas tentang diare (berak susu)

Seperti yang sebelumnya telah kami jelaskan di atas bahwa diare (berak susu adalah penyakit langganan untuk peternak babi di Indonesia. Mengapa hal ini bisa terjadi dan apa sih sebenarnya yang menyebabkan berak susu pada ternak babi.

Diare (berak susu) sapaannya dapat disebabkan oleh beberapa agen penyakit seperti virus maupun bakteri, namun dari beberapa pengalaman di lapangan secara berulang menyakinkan kami bahwa sumber utama penyebab diare ialah jenis bakteri E.coli yang bila menyebabkan penyakit disebut sebagai kolibasilosis.

Bakteri E. coli merupakan salah satu bakteri gram negatif yang tidak berbentuk spora, tidak tahan asam dan memiliki ukuran sekitar 1 – 3 µm, bentuknya batang tunggal atau ganda, motil, fakultatif anaerobik. Jika dikultur akan memiliki warna merah muda pada agar MacConkey, koloni hijau kekuningan pada agar Blood Agar (BA), dan berwarna hijau mengkilap pada agar Eosin Methylene Blue (EMBA).

E. coli tumbuh optimal pada suhu 10°C – 45°C, dan dapat tumbuh pada pH sekitar 5 – 7,5, serta pada NaCl konsentrasi 0.5 – 5 %. Bakteri ini bersifat oportunistik pada jumlah tertentu seperti kekurangan jumlah makanan atau mengikuti penyakit lainnya. Selain itu bisa juga bersifat enteropatogenik/enterotoksigenik karena memiliki antigen perlekatan dan kemampuan menghasilkan enterotoksin untuk menimbulkan penyakit (Addis et al., 2015; Buchanan,1997; Hastarinda, 2016).

Kok ribet banget sih? Saya peternak pak, bukan mahasiswa yang ingin kuliah atau dosen/peneliti yang ingin mendalami E. coli langsung saja bagaimana cara mengatasi diare pada babi!

Manajemen kandang babi

Hal pertama dan terutama yang perlu untuk kamu perhatikan sebagai peternak babi ialah manajemen kandang yang mencakup sanitasi dan kenyamanan ternak babi. Mengapa ini sangat penting, karena system budidaya peternak babi di Indonesia yang bersifat tradisional tidak memperhatikan aspek ini dan baru mengeluh bila babinya telah sakit, sakit parah, bahkan mati.

Data dari Ardana (2016) menunjukkan bahwa kasus penyakit E. coli di Eropa menunjukkan presentase yang kecil bahkan hanya mencapai 2% dibandingkan penyakit lainnya, sedangkan di Indonesia masih menjadi penyakit utama bersama dengan kasus Hog cholera, penyakit pernapasan, reproduksi dan terakhir ASF.

Jangan salah, kandang yang jarang dibersihkan dan tidak kena sinar matahari secara langsung merupakan sumber pencemaran penyakit. Kuman di dalam kandang dapat bertahan selama seminggu bahkan lebih. Kuman ini setiap saat dapat menginfeksi anak babi baik melalui makanan, puting susu yang masih basah, tali pusar, maupun melalui saluran pernafasan (Mubiru et al, 2000).

Besung (2012) menambahkan bahwa kejadian ini tidak bisa dihindarkan karena pengelolaan peternakan babi pada skala peternakan tradisional belum dikelola dengan baik, kandang beralaskan tanah, upaya pembersihan kandang yang hampir tidak ada, serta upaya penanggulangan penyakit baik vaksinasi maupun pengobatan yang jarang dilakukan.

Selain itu, ternak babi yang stress juga gampang menyebabkan diare (berak susu) loh! Stress ini disebabkan suhu udara yang terlalu dingin, kandang yang lembab, dan anak babi  yang kurang mendapatkan kolostrum dari induknya. Mengetahui hal ini, saatnya kamu melihat kandang babinya dan mulai memperbaikinya.

Biosekuriti peternakan babi

Tahap kedua yang harus kamu lakukan bila telah memperbaiki kondisi dan manajemen kandang babi kamu ialah melakukan biosekuriti peternakan babi. Tapi babi saya cuman 2 – 4 ekor, tidak perlu pakai biosekuriti!.

Eits,… jangan salah! Biosekuriti menjadi tindakan wajib lainnya yang perlu kamu perhatikan. Jangan menyesal dan mengeluh bila babi kamu jatuh sakit atau mati karena lalai dalam menerapkan biosekuriti di kandang. Hari gini, kamu bisa melakukan formulasi biosekuriti sederhana kok yang budgetnya hanya sekitar Rp 30.000 per bulan kok.

Langkah biosekuriti yang perlu kamu perhatikan ialah orang, barang dan hewan atau disingkat dengan (OBH) gampang kan? Orang yang akan masuk – keluar kandang babi kamu, barang – barang yang masuk ke kandang seperti pakan, peralatan, mobil, dll. Hewan yang masuk ke kandang kamu babi pejantan, indukan hingga piglet baru.

Vaksinasi, medikasi, dan herbal

Terakhir baru masuk ke dalam tahap vaksinasi dan medikasi. Kadang peternak langsung ke langkah ini tanpa memperhatikan kedua aspek sebelumnya padahal vaksinasi dan medikasi tidak akan berefek bila kedua hal di atas  tidak dilaksanakan dengan baik.   

Lalu kapan waktu vaksinasi dan medikasi dilakukan pada babi?

Nah, vaksinasi dilakukan pada induk babi pada umur kebuntingan 70 – 75 hari, lalu diulangi pada umur kebuntingan 100 – 105 hari (Litbang.pertanian.go.id) namun beberapa produsen vaksin E. coli bisa dilakukan 1 – 2 minggu sebelum induk babi melahirkan. Hal ini sangat bergantung dengan jenis vaksin yang kamu gunakan.

Bila telah melakukan vaksinasi, apakah masih perlu melakukan medikasi?

Medikasi atau bahasa lainnya ialah pengobatan sejatinya dilakukan untuk mengatasi babi yang telah sakit, namun karena stok persediaan vaksinasi di lapangan kadang hal ini dilakukan dan penerapannya berhasil. Menjawab pertanyaan di atas bila telah dilakukan vaksinasi sebaiknya tidak perlu dilakukan langkah medikasi.

Adapun jenis antibiotic yang dapat diberikan sebagai langkah medikasi ialah golongan betalaktam seperti amoxicillin dan enrofloxacin (Bulu et al., 2019), Kanamisin dan Streptomisin (Tabbu, 2000) dan golongan oxytetracyclin (Fenanza, 2019). Untuk waktu pemberian dapat diberikan pada induk babi sebelum melahirkan dan untuk anak babi yang telah mengalami diare. Dosis pemberian sangat bergantung terhadap jenis antibiotika dan konsentrasi sediaan obat.

Selain itu, kamu bisa memberikan obat herbal seperti daun jambu biji seperti penelitian yang dilakukan oleh (Sinaga, 2007) dengan mencampurkan ke dalam pakan namun kendalanya ialah waktu kerja yang butuh waktu lama dan penggunaan bahan – bahan herbal mesti konsisten dan butuh banyak penelitian lanjutan. Kedepan akan kita bahas lebih lanjut dan spesifik yah sahabat babinesia.

Oleh karenaa itu, pada saat melakukan penyuntikan silakan konsultasi dengan dokter hewan pribadi kamu. Bila belum menemukan dan tidak ada bimbingan dari dokter hewan yang kamu kenal, jangan khawatir kami siap menerima keluhan kamu kok. Jangan ragu untuk melakukan konsultasi dengan babinesia yah sahabat.    

Itulah ulasan singkat babinesia tentang cara atasi diare (berak susu) pada babi. Selamat mencoba dan semoga berhasil yah sahabat babinesia.

DAFTAR PUSTAKA

Ardana IBK. 2016. Mycoplasma Hyopneumoniae Pada Babi. Dipresentasikan pada seminar nasional II dengan tema”Peningkatan Kualitas Produksi Ternak Babi Nasional” di Manado 3 November 2016.
Besung, I.N.K. 2012. Kejadian Kolibacillosis Pada Anak Babi. Majalah Ilmiah Peternakan Vol. 13(1): 1 – 12.
Buchanan RL, Doyle MP.1997. Foodborne disease significance of Escherichia coli O157:H7 and other enterohemorrhagic E. coli. Food Technol;51(10):69–76.
Hastarinda, V.Y. 2016. Kasus Penyakit Kolibasilosis dan Dampaknya Terhadap Produksi Ayam Petelur di Tunas Muda Farm Kecamatan Palang Kabupaten Tuban [Tugas akhir]. Surabaya: Universitas Airlangga.
Tabbu, C.R., 2000. Penyakit Ternak dan Penanggulangannya. Penerbit Kanisius. Yogyakarta.
Bulu PM, Wera E, Y NS. 2019. Manajemen Kesehatan Pada Ternak Babi di Kelompok Tani Sehati Kelurahan Tuatuka, Kecamatan Kupang Timur, Kabupaten Kupang NTT. Jurnal Pengabdian Masyarakat Peternakan Vol 4 (2): 164 – 176.
Fenanza. 2019. Penanggulangan Kolibasilosis Anak Babi dengan Triple Action. Diakses dari: http://www.fenanza.id/id/detail-news-and-events/34/penanggulangan-kolibasilosis-anak-babi-dengan-triple-action
Sinaga, S. 2007. Penggunaan Tepung Daun Jambu Batu sebagai Anti Diare Pada Pertumbuhan Babi Periode Starter. Jurnal Ilmu Ternak, Vol. 7 No.2, 161 – 164.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Protein untuk Indonesia