7 Jenis babi lokal di Indonesia

Mau tau tentang 7 jenis babi lokal di Indonesia. Berikut ini babinesia akan membagikan informasinya untuk kamu sahabat babinesia. Simak penjelasannya berikut ini.

Kebutuhan ternak babi untuk kalangan minoritas di Indonesia  tergolong tinggi walaupun hanya berpusat pada beberapa tempat seperti Bali, Sumatera Utara, Jawa, Kalimantan Barat, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Selatan, Sulawesi Utara hingga Papua. Beberapa kota besar di Indonesia nyatanya membutuhkan pasokan daging daging babi yang cukup tinggi seperti Jakarta, Bandung, Surabaya, Malang,  Semarang, dan kota besar lainnya.

Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistika tahun 2018, populasi ternak babi berkisar 8.138.000 ekor dengan produksi daging sekitar 344.200 ton sehingga menempatkan ternak babi pada uruta ketiga setelah ternak ayam broiler dan ternak sapi sehingga bisa dikatakan  ternak babi masih cukup menjanjikan di Indonesia.

Fakta lainnya yang cukup menggembirakan untuk peternak babi di Indonesia ialah konsumen ternak babi sekitar 13 % populasi (33,8 juta penduduk). Konsumsi babi perkapita 0,250 kg/tahun dari angka konsumsi daging 6,78 kg/tahun. Kemudian kurang lebih 1000 babi hidup diekspor ke Singapura perhari (Badan Pusat Statistika, 2018).  

Pada artikel sebelumnya telah dijelaskan bahwa setidaknya ada terdapat 5 spesies babi lokal di Indonesia dan beberapa diantaranya sudah terancam punah. Adapun yang tersisa dan masih dipelihara masyarakat lokal hingga kini ialah spesies Sus scrofa/vittatus yang memiliki kemiripan dengan babi Landrace. Berikut ini adalah babi lokal yang dipelihara oleh masyarakat yang dikenal dengan  sebutan babi kampung:

Babi Bali

Babi Bali dibedakan menjadi babi yang berasal dari Sus scrofa dan Sus vittatus, biasanya pemeliharaan ternak babi oleh masyarakat Bali sebagai status sosial. Pemeliharaan ternak babi pada umumnya dilakukan dengan diikat di belakang rumah, jumlah anakan bervariasi namun rata – rata 6 – 8 ekor sekali kelahiran.

Pakan yang diberikan berupa daun – daunan hijau, nasi sisa, limbah rumah makan dan kadang diberikan konsentrat. Lumrah dijual untuk memenuhi kebutuhan babi guling seharga 50 – 60  ribu/kg.

Babi Timor

Babi Timor atau babi asli yang berasal dari Nusa Tenggara Timur pada umumnya dipelihara di belakang rumah atau pada kebun. Pakan yang diberikan berupa hijauan, sagu, umbi, limbah  hasil panen, dan limbah dapur. Dipelihara 3 – 4 babi/keluarga namun masih bermasalah dalam hal kesehatan babi dengan tingkat mortalitas yang cukup tinggi.

Babi Toraja

Babi Toraja pada umumnya dipelihara secara intensif dengan menggunakan kandang bambu. Pakan yang diberikan pada umumnya ubi jalar dicampur dengan dedak padi, daunt alas dan kadang diberikan konsentrat. Babi eksotik tidak terlalu disukai masyarakat Toraja dan lebih menyukai persilangan babi ras hitam.

Ternak babi di Toraja lebih banyak dimanfaatkan untuk kepentingan upacara adat dan daging yang diperoleh bukan untuk dibagikan kepada masyrakat kampung. Semakin banyak daging yang dipotong menandakan status sosial seseorang. Penawaran harga babi masih menggunakan taksiran antara penjual dan pembeli babi.  

Babi Nias, Babi Toba, dan Babi Samosir

Babi dari Pulau Sumatera terbagi atas tiga jenis babi lokal yakni Babi Nias, Babi Toba dan Babi Samosir. Babi Nias yang hidup di Nias, babi Toba atau babi Batak yang hidup di daerah Toba Samosir dan Tapanuli Utara dan babi Samosir yang hidup di daerah Samosir. Berdasarkan penelitian Siagian (2014) menunjukkan perbedaannya terdapat pada ukuran tubuh dan berat badan yang berbeda namun perlu pengujian genetika.

Babi yang terdapat di Sumatera Utara telah banyak disilangkan sehingga sulit untuk melihat keaslian babi lokal asli. Babi biasanya dilepasliarkan dan baru dikandangkan di malam hari, babi digunakan untuk kebutuhan adat Batak. Pakan yang diberikan berupa singkong, nasi sisa, dan beberapa hijauan yang kemudian dimasak terlebih dahulu sebelum diberikan.

Babi Papua

Babi di Papua pada umumnya dilepasliarkan dan baru dimasukkan ke dalam rumah pada malam hari yang diberi nama HONAI. Pakan yang diberikan berupa limbah kentang, daun ubi jalar, dan memiliki hubungan yang dekat antara manusia – ubijalar – babi. Babi dipelihara setidaknya 2 – 3 tahun sebelum diperjual – belikan untuk kebutuhan adat desa.

#masalah babi ingat babinesia

Itulah ulasan singkat babinesia tentang 7 jenis babi lokal di Indonesia. Selamat membaca dan semoga bermanfaat yah sahabat babinesia.

DAFTAR PUSTAKA

Silalahi P. 2018. Pig Production in Indonesia. Post Doctoral Research in Tunghai University.
Soewandi BDP dan Talib C. 2015. Pengembangan Ternak Babi Lokal di Indonesia. WARTAZOA Vol. 25  No. 1. Hal. 39 – 46.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *